Wartawan vs Konten Kreator, Siapa Penjaga Kebenaran

Edukasi262 Dilihat

TALIGAMA.ID,-Hari Pers Nasional (HPN) 2026, kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tak bisa dihindari, dunia informasi telah mengalami perubahan yang drastis. Dulu, masyarakat menunggu informasi dari koran, radio, atau televisi. Saat ini, berita datang melalui layar ponsel, sering kali bukan dari jurnalis, tetapi dari kreator konten.
Kemunculan kecerdasan buatan (AI), algoritma media sosial, dan budaya “viral” memicu perubahan.

Informasi kini bergerak dengan sangat cepat, sementara proses verifikasi membutuhkan waktu,
di sinilah terjadi persaingan terselubung antara kecepatan dan kebenaran.

Tidak bisa disangkal bahwa wartawan tradisional semakin sering merasa “ketinggalan”. Banyak kejadian besar pertama kali muncul melalui unggahan masyarakat, YouTuber, Tik Toker, atau akun Instagram lokal. Wartawan muncul belakangan untuk melakukan konfirmasi.

Permasalahannya, publik kadang tidak peduli mengenai siapa yang memverifikasi. Yang mereka peduli adalah mereka sudah mengetahui informasi tersebut terlebih dahulu. Di zaman sekarang ini, wartawan tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi.

Wartawan seakan tersisih, namun bukan berarti kalah. Wartawan masih memiliki satu aspek yang tidak dimiliki oleh semua orang, yaitu tanggung jawab profesional. Ada kode etik, ada mekanisme untuk memperbaiki kesalahan, ada redaksi, ada standar verifikasi, dan ada konsekuensi hukum serta moral.

Kreator konten sering tidak mempedulikan hal tersebut. Mereka memiliki kreativitas, keberanian, dan kedekatan dengan audiens, tetapi tidak selalu dilengkapi dengan batasan etika yang kuat, sehingga publik sulit untuk membedakan “Berita dan Konten”.

Salah satu krisis terbesar di zaman ini adalah hilangnya batas antara berita, opini, dan hiburan. Konten dibuat seolah-olah adalah fakta, opini disajikan seperti berita, dan rumor disunting seakan-akan merupakan hasil investigasi.

Yang lebih berbahaya lagi, AI dapat mempermudah manipulasi. Teknologi seperti deepfake, kloning suara, foto yang dimanipulasi, dan narasi otomatis dapat mengubah hoaks menjadi “tampak kredibel”.

Ketika masyarakat kebingungan, tingkat kepercayaan pun runtuh. Dan ketika kepercayaan hancur, yang diuntungkan bukanlah wartawan atau kreator, melainkan mereka yang berusaha menyebarkan kebohongan.

Media Konvergensi: Solusi Memperbaiki Kepercayaan

Di sinilah pentingnya media konvergensi. Wartawan tidak cukup hanya menulis berita untuk platform tertentu. Mereka harus hadir di seluruh saluran, teks, video pendek, podcast, laporan langsung, infografik, hingga ruang interaksi publik.

Konvergensi bukan sekadar mengikuti tren. Konvergensi adalah cara bagi media untuk mempertahankan pengaruhnya dalam membangun opini publik yang sehat.

Wartawan harus mampu:
-mengolah fakta menjadi cerita yang mudah dipahami,
-cepat tapi tetap terverifikasi,

-melawan disinformasi dengan data, bukan emosi.

-membangun kepercayaan melalui transparansi dalam kerja jurnalistik.

Jika wartawan hanya bergantung pada format lama, publik akan menjauh. Bukan karena wartawan tidak penting, tetapi karena wartawan tidak berada di tempat di mana publik berkumpul.

Kreator Konten Bukan Musuh, Mereka Adalah Realitas Baru

Kita juga perlu menyadari, kreator konten bukanlah musuh wartawan. Mereka bagian dari ekosistem informasi yang baru. Banyak kreator konten yang membantu menyuarakan permasalahan publik, mengangkat isu lokal, dan mempercepat penyebaran informasi yang penting.

Namun, tanpa bimbingan yang tepat, kreator konten dapat berubah menjadi “pabrik opini” yang tidak terkontrol.

Karena itu, dibutuhkan kolaborasi dan pembinaan, bukan konflik.

Membimbing Kreator Konten: Dari Viral Menuju Bertanggung Jawab

Pembinaan untuk kreator konten tidak berarti membatasi kebebasan berekspresi. Pembinaan adalah memberikan standar minimal agar konten yang dihasilkan tidak merusak pikiran publik.

Ada beberapa hal yang perlu ditanamkan:

Pertama, perbedaan  antara fakta dan opini. Kreator konten boleh memiliki pendapat, tetapi tidak boleh memanipulasi fakta untuk mendukung penulis.(Rofiq)

Tinggalkan Balasan