SEMARANG, TALIGAMA.ID,– Kondisi escape ramp atau jalur penyelamat di Sigar Bencah, Jalan Kolonel H. Iman Soeparto, Kota Semarang, menjadi sorotan setelah ditemukan sejumlah kerusakan pada struktur talud penahan tanah. Retakan memanjang terlihat di beberapa titik dinding penahan, disertai terkelupasnya pasangan batu yang tampak tidak lagi menyatu secara utuh.
Jalur penyelamat tersebut merupakan proyek infrastruktur yang dibangun menggunakan anggaran negara dengan nilai sekitar Rp 2 miliar. Besaran anggaran tersebut seharusnya sejalan dengan kualitas material, metode pelaksanaan yang tepat, serta pengawasan teknis yang ketat sejak awal hingga proyek dinyatakan selesai.
Escape ramp memiliki fungsi vital sebagai jalur darurat bagi kendaraan bertonase besar yang mengalami kegagalan pengereman, terutama di ruas jalan menurun. Dengan fungsi tersebut, kondisi konstruksi yang tidak optimal berpotensi menimbulkan risiko langsung terhadap keselamatan pengguna jalan.
Pantauan awak media di lokasi pada Jumat (16/1/2026) menunjukkan indikasi kerusakan dini pada talud jalur penyelamat. Secara visual, pasangan batu terlihat kurang saling mengunci, sementara spesi atau adukan tampak lebih dominan di permukaan. Kondisi ini menimbulkan dugaan bahwa fungsi struktural dinding penahan tanah tidak bekerja secara maksimal.
Selain retakan vertikal, juga ditemukan retakan horizontal yang dalam kajian teknik sipil kerap dikaitkan dengan potensi kegagalan struktur dinding penahan tanah. Retakan tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari mutu material, metode pelaksanaan pekerjaan, hingga sistem drainase yang diduga tidak berfungsi optimal.
Talud berfungsi menahan tekanan tanah, beban di sekitarnya, serta aliran air. Apabila terjadi kesalahan pada fondasi, kualitas adukan, atau sistem pembuangan air, maka stabilitas bangunan dapat terganggu. Dalam konteks jalur penyelamat, risiko tersebut menjadi lebih serius mengingat fasilitas ini dirancang untuk kondisi darurat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek pembangunan talud jalur penyelamat Sigar Bencah diduga dikerjakan oleh PT Tiara Graha yang beralamat di Jalan Tambak Dalam I Nomor 18, Kota Semarang. Namun, informasi tersebut masih memerlukan konfirmasi resmi dari pihak perusahaan maupun instansi terkait.
Dalam sistem pengadaan pemerintah, tanggung jawab proyek tidak hanya berada pada penyedia jasa. Proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan melibatkan berbagai pihak, termasuk konsultan pengawas dan pejabat pembuat komitmen. Setiap tahapan seharusnya dilengkapi dengan mekanisme pengendalian mutu sesuai spesifikasi teknis yang tertuang dalam kontrak.
Kondisi fisik di lapangan kemudian memunculkan pertanyaan terkait sejauh mana pengawasan dilakukan selama proses pembangunan. Apakah seluruh tahapan pekerjaan telah melalui pengujian teknis yang memadai, serta apakah hasil pekerjaan telah dievaluasi secara menyeluruh sebelum diserahterimakan.
Pantauan tersebut juga membuka ruang dugaan adanya pelanggaran regulasi apabila nantinya terbukti pekerjaan tidak sesuai spesifikasi dan berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara. Selain itu, aspek kelalaian menjadi perhatian serius mengingat jalur penyelamat merupakan infrastruktur keselamatan publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai hasil uji mutu material, laporan pengawasan teknis, maupun penilaian apakah retakan yang muncul tergolong cacat ringan atau berpotensi membahayakan struktur secara keseluruhan.
Fakta yang terlihat saat ini adalah kondisi visual di lapangan: talud yang mengalami retakan dan jalur penyelamat yang menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas sebelum mencapai masa layan yang semestinya.
Persoalan ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap proyek infrastruktur yang dibiayai anggaran publik. Ketika standar teknis dan kontrol mutu tidak dijalankan secara konsisten, infrastruktur yang dirancang untuk melindungi keselamatan justru berpotensi menjadi sumber risiko bagi masyarakat.
(AGS)






