SPPG Paiton Berjaya Buka Suara Terkait Tudingan Arogan kepada Supplier Buah

Topik Terkini417 Dilihat

 

PROBOLINGGO, TALIGAMA.iD,– Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paiton Berjaya akhirnya memberikan klarifikasi atas pemberitaan yang menuding pihaknya bersikap arogan dan membentak seorang Supplier buah saat proses pengadaan bahan pangan, Rabu (05/08/26).

Ahli Gizi SPPG Paiton Berjaya, Evi, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut berawal pada 16 Juli 2026 ketika dirinya memesan buah pisang Cavendish kepada istri seorang Supplier berinisial I. Menurutnya, pemesanan dilakukan karena sebelumnya yang bersangkutan pernah menawarkan produk tersebut.

“Sebelumnya saya tidak mengetahui kalau beliau adalah istri dari Pak I yang pernah mengirim buah ke SPPG kami. Karena beliau menawarkan langsung kepada saya dan kami sudah saling mengenal, akhirnya saya mencoba melakukan pemesanan,” ujar Evi.

Namun, setelah buah diterima di SPPG, Evi mengaku mendapati kondisi pisang yang diterima berbeda dari yang ia harapkan. Menurut pengetahuannya, pisang Cavendish umumnya memiliki warna kekuningan, tekstur kulit yang agak keras, serta daging buah yang lembut dan manis. Sementara pisang yang dikirim masih berwarna hijau.

“Saat itu saya menghubungi istri Pak I melalui WhatsApp dan bertanya, ‘Ini pisangnya masih hijau?’ Beliau menjelaskan bahwa itu adalah pisang Cavendish lokal. Sepengetahuan saya, Cavendish biasanya berwarna agak kekuningan. Mungkin saya memang belum mengetahui jika ada Cavendish lokal yang masih berwarna hijau,” jelasnya.

Evi menuturkan, setelah dirinya melakukan konfirmasi kepada istri Supplier, tidak lama kemudian I menghubunginya melalui sambungan telepon dengan nada tinggi. Menurutnya, situasi tersebut membuat dirinya terkejut karena merasa dibentak.

Tak lama berselang, I bersama dua rekannya datang ke kantor SPPG Paiton Berjaya. Ketiganya disebut langsung merekam percakapan menggunakan telepon genggam.

“Saat mereka datang bersama dua rekannya, mereka langsung merekam dan mengarahkan kamera ke saya. Saya sudah meminta agar tidak direkam karena di kantor sudah ada CCTV yang dapat dijadikan dokumentasi apabila diperlukan. Namun mereka tetap melakukan perekaman,” katanya.

Selain itu, Evi mengaku sempat menerima ucapan yang dianggap sebagai bentuk ancaman dari pihak supplier.

“Mereka sempat mengatakan, ‘Kalau kerja samanya diputus, lihat nanti’,” ungkapnya.

Meski sempat terjadi adu argumen, Evi menegaskan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan secara baik-baik. Kedua belah pihak bahkan telah saling berjabat tangan dan menganggap insiden tersebut sebagai bentuk kesalahpahaman atau miskomunikasi.

“Saya mengira persoalan ini sudah selesai. Kami sudah saling bersalaman dan menganggap semuanya hanya miskomunikasi,” ujarnya.

Namun, Evi mengaku terkejut ketika beberapa waktu kemudian muncul pemberitaan yang menyebut dirinya bersikap arogan dan membentak supplier buah.

“Saya kaget karena tiba-tiba ada yang mengirimkan berita tersebut kepada saya. Setelah kejadian itu, saya memang memilih membeli pisang dari suplyer lain karena tidak ingin kejadian serupa terulang kembali,” pungkasnya.

(KKY)

Tinggalkan Balasan